Pertanian
waaaaaaaaaaah segar deh liat nya….
bakal ngga nyangka deh, kalo pertanian Mesir lebih unggul dibanding belahan afrika lainnya, terlebih di bagian Gandum
waaaaaaaaaaah segar deh liat nya….
bakal ngga nyangka deh, kalo pertanian Mesir lebih unggul dibanding belahan afrika lainnya, terlebih di bagian Gandum
sakurnya Egypt nih
kalo ini ketemunya pas di jalanan…ngga nyangka kan ada yang beginian…

klo yang ini pas lagi ke pameran buku….pas liat yaaa langsung di tembak deh
ngga tau namanya nih…
Ni foto depan bentengnya….yaa kalo dalam kerajaan itu, pintu gerbang utama nya lah…
Sekarang dibuat seperti mesjid, kalo shalat lima waktu bakal di pake, tapi klo jum’atan, ngga.
keliatan dari depan nya nih…..
Klo boleh dibilang sih…sekarang jalanannya jadi pasar….:D
Dah dekat banget nih….yang jelas tinggi banget…:D
ni dia yg pengen tau tentang Pameran Buku kedua yang terbesar di dunia setelah German…
jd malu nih, cuma liat2 doang, tp ngga beli2….
ni masih sebagiannya aja….
coba nembak anak2 nih….ternyata manis jg adek kita dari provinsi ini…
narsis dikit, yg penting punya kenang2 di web…
Ni …waktu kta mulai kenalan, yaa ada jg si rasa groginya… tp, ngga bakal menghilangkan rasa pertemenan ama kazaks…:D
naah, klo ini orang kazaks tu pengennya foto bareng, tp berhubung ane nya jg lagi g mud, yaa dipaksa paksain ikut ama mereka…:D
Waah, klo yang ini jangan ditanya, satunya tu dari Georgia dan satunya dari Russian. sang pendampingnya masih indo laah…
Kalo yg ini lagi sendirian…tp sendirian dalam arti apa dulu nih:? hehehe
Ups…ama russian nih, tp ngga ngedate cuma nonton pertunjukan doang:)
pemandangan depan gurun nih, tp belakannya pantai:D, enak banget….:))
naah kalo yang pastinya indo kan? ngga laah, ini ama teman2 thailand….
Lagi santai nih
Pertama kali ni makan di restoran besar, klo ngga salah harga satu porsinya 10$ belum lagi menu penutupnya, yaa bisa-bisa 20$ an lah
klo yang ini adek kita dari Syiria….klo ngga salah baru berumur 7 tahun. namanya Qamar, tp bahasa ammiyah mesirnya keren, ngga kalah ama si penjaga pantai:D
klo yang ini asli Mesir, adek kita ini suka berpose kalo lagi difoto, mungkin cita2nya mo jd model kali ![]()
Dasawarsa ini, sungguh eksentrik geliat religius yang menjangkit bangsa kita setiap bulan Ramadan tiba, jilbab mendadak jadi trend tersendiri. Jilbab pun dicampakkan ketika gemuruh bedug hari raya Idul Fitri berlalu. Sehingga wajar diberlakukannya “honoris causa ‘Jilbab Musiman’ ”. Fenomena apakah itu ? Jilbab, dalam bahasa Arab lazim disebut chijab(penutup aurat), orisinilitasnya adalah kewajiban(fardu a’in) bagi setiap Muslimah bila berada di tempat terbuka yang memungkinkan aurat(anggota badan)nya terlihat oleh orang lain atau bukan muhrim. Fenomena yang terjadi dan berkembang akhir-akhir ini, macam-macam istilah jilbab, “visi dan misinya” pun beragam. Ada “Jilbab Gaul”, gelar bagi para Muslimah yang mengenakan “kain jilbab’’ tapi sikapnya tidak jelas, termasuk di siang hari bulan suci Ramadan ini, –dengan berkain jilbab itu– dirinya tak segan bercumbu dengan sembarang laki-laki di tempat terbuka. Menjamur pula “Jilbab Politik”, biasa dikenakan oleh para politisi setiap musim “Silaturrahim politik” ke berbagai pondok pesantren, atau turun lapangan kampanye untuk megeruk simpati publik. Atau “Jilbab Asmara”, pakaian sang gadis jelita demi untuk meraih cinta sang pemuda tampan idamannya. Dan berbagai “jilbab” lainnya. Terlepas dari kepentingan dan kredibilitas religius (bathin) masing-masing yang mengenakan “kain” jilbab, aspek etimologis itu semua sah-sah saja. Karena jilbab secara bahasa adalah penutup (anggota lahir badan). Jilbab Komersial Setiap bulan Ramadan, sekilas sungguh mempesona pamor kibaran “kain” jilbab yang dipancarkan oleh berbagai kalangan wanita. Dengan mode sedemikian rupa bagusnya. Hebohnya ! Mereka yang terbiasa bangga menggerakkan dan memamerkan aurat badannya di berbagai media masa cetak dan elektronik pun di bulan Ramadan ini mendadak “cuti” dari profesinya. “Demi untuk memamerkan kain jilbabnya”. Spontan ngetrend "alih profesi" berlomba memproklamirkan dirinya memakai aneka busana Muslimah dengan harga tidak murah, untuk disaksikan oleh para penggemarnya sebagai "selebritis taat beribadah !". Argumen singkat mereka "kita sangat gembira menyambut bulan suci Ramadan". Bahkan tak heran, banyak pula wanita non-Muslimah ditunjang dengan modal kecantikan wajahnya, sementara waktu "ikhlas menjadi bunglon" mengenakan kain jilbab, plus secara terselubung gencar mengkampanyekan hedonis, membuat banyak orang terpesona melihat "kain jilbabnya". Seolah-olah mereka(artis) adalah “wanita sholikhah” teladan bagi para Muslimah. Meskipun sejatinya hanya mencari simpati demi meningkatkan rating tayangan film atau acara tertentu "bereklame Islam" yang dibintangi oleh mereka setiap hari ditayangkan di berbagai stasiun televisi pada bulan suci ini. Anehnya ? Komunitas yang benar-benar berjilbab, dengan fasilitas hidup seadanya pun, tanpa memfungsikan nalar ilmiah, tertipu dan terjebak ke dalam kubangan hedonisme. Sekalian menjadikan gaya "Jilbab Musiman" para artis yang penuh kepentingan itu, sebagai panutan atau "kiblat” hidupnya. Inilah di anatara poin negatifnya. Kalau fenomena-fenomena tersebut terus terjadi, sungguh naif dan memilukan, bukan ?
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com